Keberadaan polutan udara dapat dikenali dengan beberapa gejala-gejala diantaranya yaitu:
- ditemukan banyak penderita saluran pernafasan
- kerusakan pada tanaman
- kotor atau rusaknya dinding bangunan
- adanya SMOG, dan
- minimnya jarak
pandang di udara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa iritasi saluran
pernafasan dan perubahan jaringan otak, lever, serta ginjal dapat terjadi
pada manusia dan hewan sebagai akibat negatif dari polutan. Pada tanaman,
sebagian besar polutan udara dapat merusak klorofil yang mengakibatkan
turunnya kemampuan fotosintesis. Polutan udara dapat menyebabkan
kerugian ekonomis pada pertanian, karena polutan dapat menyebabkan
tanaman berbuah terlalu awal dan lambatnya pertumbuhan, serta
menurunkan produksi. Bahan-bahan seperti semen, batu bata, logam karet,
gelas, tekstil, kulit dan cat dapat dirusak secara abrasif atau reaksi kimiawi
oleh polutan udara.
Kerusakan pada Daun
Daun kapas yang terpapar oleh polusi udara
Beberapa tanaman tumbuh secara karakteristik bila terpapar oleh
polutan tertentu. Terjadinya warna cokelat atau kuning pada daun kapas
sebagai tanda rusaknya klorofil merupakan akibat terpaparnya tanaman
tersebut oleh udara yang mengandung gas SO2 dengan konsentrasi sekitar
0,2 ppm. Beberapa bercak atau bintik-bintik putih yang terjadi pada daun
kacang-kacangan dan tomat merupakan akibat 10 - 12 ppm O3 di
udara dengan masa kontak selama 2 jam. Kenampakan yang lebih terang
pada bagian bawah daun slada dan kacang-kacangan merupakan akibat
adanya 15 sampai 25 ppm PAN dengan masa kontak selama 4 jam.
Perubahan Morfologi
Pada percobaan yang dilakukan Rushayati
dan Maulana (2005) diamati bahwa terjadi
penurunan pertumbuhan terkait dengan diameter
batang dan tinggi tanaman pada tanaman Kenari
dan Akasia ketika diberi emisi polutan udara
dengan beberapa parameter yaitu 9.375 μg/m3
CO, 149,07 μg/m3 SO2, 78,87 μg/m3 NO2, dan
43,1 μg/m3 debu.
Pada saat ini morfologi epidermis telah
dipelajari sebagai indikator dalam tanggapannya
terhadap bahan pencemar khususnya SO2.
Kerusakan kultikula dan epidermis dapat
digunakan untuk mengidikasikan adanya
pencemaran udara.
Kerusakan Stomata
Menurut Prastica (2009) stomata adalah
sebuah lapisan datar yang merupakan bagian dari
jaringan epidermis dengan sebagian besar sel-sel
transparan yang seringkali tersedia dengan
kutikula yang berlapiskan lilin.Stomata biasanya
terdapat pada bagian bawah permukaan daun dan
di permukaan atas daun serta juga banyak terdapat
di bagian batang terutama pada tumbuhan
rempah-rempah.
Widagdo (2005) mengemukakan bahwa
stomata sebagai pintu masuk dari polutan
pencemar udara mempunyai panjang sekitar 10
μm dan lebar antara 2 –7 μm sehingga ukuran
polutan yang demikian kecil, yaitu kurang dari 4
μm dan rerata 0,2 μm dapat masuk ke dalamnya
serta menetap dalam jaringan daun dan menumpuk di antara celah sel jaringan
pagar/palisade dan atau jaringan bunga
karang/spongi tissue.
Menurut Mansfield (1976) tanaman yang
tumbuh di lokasi yang tercemar, cenderung
merangsang pengambilan gas lain ke dalam
mesofil daun, pada saat proses asimilasi CO2
berlangsung. Banyak spesies tanaman yang lebih
sensitif terhadap SO2 pada siang hari, ketika
stomata terbuka dibandingkan pada malam hari
kecuali pada tanaman kentang yang stomatanya
tetap membuka pada malam hari.
Pada penelitian Susanti (2004) didapatkan
bahwa peningkatan indeks stomata terjadi pada
tumbuhan yang terdapat di tempat-tempat dengan
konsentrasi polutan yang cukup tinggi. Hal ini
merupakan respon tumbuhan terhadap kehadiran
polutan dari aktivitas transportasi sebagai upaya
tumbuhan untuk mengurangi terdifusinya polutan
udara ke dalam jaringan daun tumbuhan.
Selain itu, pada beberapa penelitian telah
diketahui bahwa daun tumbuhan di daerah yang
tercemar oleh debu dari pabrik semen mempunyai
kerapatan stomata dan trichomata yang tinggi, sel
epidermis dan ukuran trichomata lebih kecil
dibandingkan dengan bila tidak tercemar.
Pengamatan Luka pada Tanaman
Pengamatan terhadap luka pada tanaman merupakan salah satu cara
mengetahui adanya polutan di udara. Polutan dapat mengalami perubahan
setelah kontak dengan tanaman, sehingga gejala-gejala yang teramati dapat
digunakan untuk menduga jenis polutan. Gejala merupakan dasar utama
untuk melakukan diagnosa. Luka karakteristik pada tanaman tertentu dapat
digunakan untuk menduga jenis polutan dan besar konsentrasi di udara.
Pendiagnosaan polutan yang menyebabkan luka pada tanaman melalui gejala yang teramati dengan mata telanjang perlu dilakukan dengan cermat.
Luka pada daun dapat disebabkan oleh kelebihan air, mineral, tiupan angin
yang keras, serangga, dan penyakit tanaman.
Bagaimana Kriteria Tumbuhan yang Dapat Dijadikan Indikator?
Tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai indikator suatu lingkungan merupakan tumbuhan yang dominan memiliki jumlah yang melimpah. Tumbuhan semacam ini merupakan
indikator yang penting karena mereka sudah
sangat erat hubungan dengan habitatnya. Dengan
demikian dapatlah dinyatakan bahwa spesies atau setidak-tidaknya kebanyakan tumbuhan
merupakan indikator yang lebih baik daripada
tumbuhan yang tumbuh secara individual. Beberapa tumbuhan yang sensitif terhadap polutan diantaranya yaitu:
Daftar Pustaka
Mansfield, T.A. 1976. Effect of Air Pollution on Plants.
Cambridge.University. Cambridge, London.
Prastica, Rossyana. 2009. Model dan Kontrol Stomata Pada
Transpirasi dan Respirasi. Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Prodjosantoso, A.K., & Tutik, Regina P.(2011). Kimia
Lingkungan. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
Rushayati, Siti B. Dan Maulana, Rizky Y. 2005. Respon Pertumbuhan
serta anatomi daun kenari (Canarium commune L) dan Akasia (Acacia mangium
willd) terhadap emisi gas kendaraan bermotor. Media konservasi, Vol.X,
No 2 Desember 2005 : 71-76.
Susanti, Evi. 2004. Stomata Sebagai Bioindikator
Pencemaran Udara Sektor Transportasi. ITB Bandung.
Widagdo, Setyo. 2005. Tanaman Elemen Lanskap Sebagai Biofilter
Untuk Mereduksi Polusi Timbal (Pb) di Udara. Sekolah Pasca Sarjana/S3 IPB
Bogor.
Wijaya, Andika, K..Penggunaan Tumbuhan Sebagai Indikator Dalam
Pemantauan Pencemaran Udara. Diakses pada tanggal 12 Juni 2023, https://adoc.pub/penggunaan-tumbuhan-sebagai-bioindikator-dalam-pemantauan-pe.html
Komentar
Posting Komentar